Postingan

Tluvalley

Gambar
Selamat hari senin teman-teman odop... Sedikit cerita saja nihh...tapi bukan cerita bersambung kayak cerpen ya(hehehe).  Efek weekend kemarin cukup buat kakiku mrengkeleng. Sabtu pagi, dua temanku yang bernama Pupud dan Frendi sudah meramaikan Hpku. Ya pagi ini kita sudah merencanakan untuk mbolang, menyusuri salah satu wisata baru yang terdapat di Pacitan. Memang Pacitan memiliki banyak sekali wisata yang tersembunyi tak salah kalau disebut sebagai Pacitan Paradise of Java. Pantai, Goa, Monumen bersejarah menjadi destinasi Pacitan. Bunyi chat BBM tanda Ping   12 kali dari Pupud mengagetkanku. Jam 04.16, itu masih pagi.  Chat berulang untuk bangun tetap belum aku baca. Magnet kasur dan selimut masih kuat ditubuhku. Maklum kebiasaan hari libur, masih magek (Males Gerak). Meskipun pasang alarm tetap saja aku kacangi. Selang beberapa jam gantian Frendi yang nge-Ping . Tahu tidak teman-teman aku masih ngantukkkk bangettt. Akhirnya jam 05.00 aku berajak bangun d...

Lukisan Senja Bagian 10

Gambar
Deburan ombak yang terdengar jelas,  hempas angin laut terasa kencang. Silaunya mentari menyambut kedatanganku dan Delia di Pantai Teleng Ria. Ya aku rindu aroma pantai yang menyejukkan ini. Terakhir kusambangi di daerah Pantai Watu Karung yang jarak tempuhnya tak jauh dengan rumahku. Akibat tersita dengan aktivitas semester 8, aku jarang sekali pergi ke sana lagi. Tetapi hari ini aku pergi ke pesisir Pantai Teleng Ria Pacitan bersama Delia. Jaraknya kurang lebih 6 km dari kota Pacitan. Ingin suasana yang berbeda untuk menatap senja. Hanya berjalan berdua dengan sahabat tetap membuat rasa bahagia. Sepeda matic yang aku kendarai dengan Delia akhirnya terparkir di pinggiran jalan. “Hmmm...sejuk rasanya,” Delia melentangkan kedua tangannya, mata terpejam merasakan tiap hembusan angin yang lewat. “aarggggghhhhhhh...,” teriakku kencang melepaskan kepenatan dan membuat Delia meloncat kaget. “Wooooiii Hann, kamu ni ngagetin aku saja,” seru Delia menatapku. “Hehehe...maa...

Lukisan Senja Bagian 9

Lukisan Senja Bagian 1 Lukisan Senja Bagian 2 Lukisan Senja Bagian 3 Lukisan Senja Bagian 4 Lukisan Senja Bagian 5 Lukisan Senja Bagian 6 Lukisan Senja Bagian 7 Lukisan Senja Bagian 8 Ok..penguji skripsi sudah ngebantai diriku selama 30 menit. Plonggggg bangettt rasanya, pertanyaan   demi pertanyaan telah dijawab meskipun ada salah satu yang belepotan. Semoga hasilnya nanti memuaskan. Doa anak sholeh...hehehe. Sekarang giliran Delia untuk menghadap penguji. Sambil menunggu sahabatku tersebut aku memberikan kabar kepada Rama. Mungkin dia juga sedang menanti kabarku. Jari jemari tangan sudah berselancar di chat BBM. Hani : Hayyy Rama...alhamdulilah ak udh selesai ujian Rama: Alhamdulilah, gmn td? Lancarkan? Hani: Alhamdulilah lancar duunkk..:) Rama: Pasti kamu bisa Han, muga hasilnya memuaskan. Hani : Amin          Oh ya ne nanti aku sama Delia mau ke pantai, kangen lama gk liat sunset. Rama: Wah..wah..gk ngajak-n...

Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 4

Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 1 Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 2 "Tempat Baru" Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 3 Dua minggu setelah ku dinyatakan lolos pendaftaran di STKIP PGRI Pacitan, akhirnya hari ini aku menjalankan test masuk perguruan tinggi. Aku kembali izin bekerja, alhamdulilah pihak toko memperbolehkan diriku. Meskipun rasa hatiku sering tak enak dengan karyawan lainnya. Aku yakin Tuhan akan memberikan kepada hambanya untuk menuntut ilmu. Pagi yang membawa secercah harapan dan asa. Semenjak subuh, ibu sudah bangun dan mempersiapkan sarapan pagi. Sebagai keluarga yang sederhana, diriku sangat bersyukur Bapak Ibu masih memberikan semangat. Hanya restu dari orang tua yang menjadi harapanku. Tubuh ibu semakin menua. Masa senja yang masih kuat menjalankan aktivitas.             “Mulai testnya nanti jam berapa nduk?” tanya ibu dengan tangannya membawa sepiring makan untuk bapak. “Jam 8 buk, insyaallah hari ini Nisa izin dulu ker...

Mutiara Di Pelosok Negeri Bagian 3

Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 1 Mutiara di Pelosok Negeri Bagian 2 "Tempat Baru" Pendidikan adalah hal yang utama bagiku. Masih banyak yang menganggap remeh, jika anak tukang bangunan tak dapat melanjutkan kuliah atau berpendidikan tinggi. Ya awalnya memang merasa minder dan tak yakin. Aku ingin mematahkan anggapan negatif itu. Ingin membuktikan bahwa aku pasti bisa.  Tak ada yang tak mungkin, semua atas kehendak Tuhan.            Detik ini aku mulai awal kisahku berada dilingkup bangku kuliah. Sepeda onthelku setia untuk mengantarkan ke kampus untuk pendaftaran calon mahasiswa baru. Jarak tempuh yang tak jauh. Wajah asing aku temui di beberapa sudut ruangan. “Adik mau pilih jurusan apa,” seorang panitia bertanya sambil menyodorkan formulir kepadaku. “Iya mbk, sebentar saya akan membaca tiap jurusan dulu,” jawabku dengan mengambil brosur yang disediakan panitia. Gerombolan pendaftar telah memenuhi ruang pendaftaran. Mataku mengarah men...

Lukisan Senja Bagian 8

Degub jantung kian kencang menyelimuti diriku. Hari yang sangat menegangkan dalam kehidupanku. Perjuangan selama 4 tahun bertemu dengan titik final. Karya yang tersusun selama beberapa bulan pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada penguji. Tanganku mulai  berkeringat, sesekali aku mengusapnya dengan tissu . Penguji memanggil satu persatu peserta ujian. Untungnya aku bukan yang pertama maju, jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan diri dan belajar memaparkan karyaku nanti. Delia, sahabatku menghampiriku dengan membawakan air minum. Mungkin dia juga merasakan ketegangan. “Han, ini minum dulu biar gak grogi,” Delia menyerahkan sebotol air yang digengamnya sedari tadi. “Makasih say. Beneran grogi kie, moga saja nanti ngadepi penguji gak demam panggung,” tegukan pertama air minum menyegarkan mulutku. Delia yang masih berdiri, mencari sedikit celah untuk duduk disampingku. Teman-teman lainnya sudah bergerombolan duduk lesehan di tangga. “Kalau sudah ngadepi pengu...

Lukisan Senja Bagian 7

Bertemuanku kembali dengan Rama berlanjut. Berawal dari kesamaan menyukai senja pantai, menyukai tempat yang sama. Namun diri ini masih enggan untuk membuka teman lelaki baru. Ya takut akan rasa sakit yang pernah aku lalui dulu, sampai tak sanggup melupakan Andik. Singgah selama bertahun-tahun, bukan waktu yang singkat untuk melupakan. Memang Rama lelaki asli Jogja ini sosok yang memberikan getaran yang  berbeda dilubuk hatiku. Dua kali berjumpa, bukan hanya kebetulan melainkan juga takdir. Setelah pertemuanku di kampus, Rama meminta pin BBM. Berawal dari sinilah Rama mulai akrab dengan diriku, meskipun dia sudah kembali pulang. Perhatiannya mulai terlihat dari cara-cara yang tak pernah aku duga sebelumnya. Selang beberapa minggu, ujian skripsi sudah ada di depan mata. Rama aku coba tinggalkan dulu, sampai pernah tidak aku respon  karena kesibukanku menyiapkan berkas yang akan menjadi penentuanku ujian. Getaran HP kembali mengusikku disaat jam-jam repot berhadapan dengan...