Lanjutan Lukisan Senja Senja berangsur pergi meninggalkan moment yang terkisahkan hari ini. Biarkan menjadi kenangan antara aku dan Delia sahabatku. Suatu saat pasti rindu akan kebersamaan yang kami bangun. Bagaikan saudara, dan tinggal beberapa bulan lagi harus berpisah oleh jarak. Tak ada yang tahu akhir cerita hidup ini, hanya goresan tangan Tuhan yang menentukan. Begitu juga dengan satu nama yang akhir-akhir ini selalu mengisi otak ku. Rama, lelaki yang mulai memberiku warna berbeda. Harapan tak ingin membuka hati lagi, tetapi Tuhan telah berencana. Kehadiran Rama melukiskan desiran hati kepadaku. Tepat hari ini, rasa yang dulunya membeku, tetiba luluh. Rama datang lagi ke Pacitan hanya untuk bertemu denganku. Jarak tempuh yang cukup jauh Jogja-Pacitan. Batinku juga tak percaya, rasa kepedeanku kambuh lagi. Siang itu, ketika aku masih berada di rumah, sesorang mengetuk pintu. Mengucapkan salam, ku kira adik ku. Setelah aku buka, mataku terbuka lebar...